Lobi 10 Jam dan Andil Prabowo-Megawati dalam Pemilihan Ketua MPR

Butuh waktu sekitar 10 jam sebelum Fraksi Partai Gerindra akhirnya bersepakat mengusung politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dalam Rapat Gabungan antara perwakilan sembilan fraksi dan kelompok Dewan Perwakilan Daerah, hanya Fraksi Partai Gerindra yang masih ngotot mencalonkan sekjen partainya, Ahmad Muzani. Sementara, Bambang Soesatyo sudah mengantongi dukungan dari delapan fraksi dan kelompok DPD. Sejak Rapat Gabungan yang digelar pukul 10.00 hingga pukul 20.00 WIB Rapat Paripurna Penetapan Pimpinan MPR, sikap Fraksi Partai Gerindra belum berubah.

Lobi dan konsultasi antara elite partai politik dilakukan. Muzani sempat bertolak ke kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, seusai menghadiri rapat gabungan. Ia meminta pendapat Prabowo terkait hasil rapat gabungan sekaligus menyampaikan pendapatnya terkait rapat tersebut. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad juga ikut menemani Muzani bertemu Prabowo.

Saat Rapat Paripurna MPR dimulai, Partai Gerindra masih belum juga mengubah sikap. Penetapan Ketua MPR terancam dilakukan melalui mekanisme voting. Sejumlah pimpinan fraksi melontarkan interupsi, meminta agar rapat paripurna diskors untuk memberikan kesempatan Fraksi Partai Gerindra menyelesaikan konsultasi. Dengan begitu penetapan Ketua MPR tetap melalui musyawarah. Permintaan itu dikabulkan oleh pimpinan rapat Abdul Wahab Dalimunthe.

Gerindra mengalah Skors Rapat Paripurna MPR dicabut pukul 21.00 WIB. Fraksi Partai Gerindra akhirnya mengalah dalam perebutan kursi Ketua MPR RI periode 2019-2024. Partai berlambang garuda itu tak lagi ngotot mendorong kadernya Ahmad Muzani untuk menjabat Ketua MPR RI. Partai Gerindra akhirnya mendukung Bambang Soesatyo untuk menduduki kursi tersebut. Ketua Fraksi Partai Gerindra di MPR, Ahmad Riza Patria mengatakan, keputusan itu didasarkan atas konsultasi dengan Ketua Umum partainya Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Kami mengedepankan musyawarah-mufakat dan hasil konsultasi Bapak Prabowo Subianto dengan Ibu Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI, maka Bapak Prabowo dan Ibu Megawati bersepakat, untuk kepentingan yang lebih besar, kami bersepakat untuk terus menjaga lembaga MPR ini dalam forum-forum musyawarah, dalam memutuskan berbagai kebijakan penting dalam membangun bangsa dan negara,” ujar Riza, Kamis (3/10/2019) malam.

Pimpinan sementara MPR Abdul Wahab Dalimunthe kemudian meminta penegasan kepada Riza mengenai maksud pernyataan resmi fraksinya. “Tadi sudah diumumkan bahwa delapan partai sudah menyatakan memilih Bapak Bambang Soesatyo juga ditambah DPD. Dalam kesempatan ini, hendaknya jelas, apakah Fraksi (Gerindra) setuju Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR?” tanya Wahab.

“Kami Fraksi Partai Gerindra sepakat dan setuju mengusung Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR RI periode 2019-2024. Terima kasih,” jawab Riza. Pernyataan Riza langsung disambut tepuk tangan meriah oleh seluruh wakil rakyat yang hadir dalam rapat. Dengan diperolehnya kesepakatan itu, maka Bambang Soesatyo terpilih sebagai Ketua MPR secara aklamasi.

Andil ketum parpol Proses penetapan Ketua MPR tidak lepas dari andil sejumlah ketua umum partai politik, terutama Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Saat menyampaikan pidato pertamanya sebagai Ketua MPR periode 2019-2024, Bambang Soesatyo sempat mengucapkan terima kasih kepada Megawati dan Prabowo. Menurut Bambang, kedua tokoh tersebut memiliki andil dalam mendorong mekanisme pemilihan Pimpinan MPR dilakukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. “Tak lupa kami ucapkan terima kasih pada Ibu Megawati Soekarnoputri yang telah memberikan dorongan agar (pemilihan) para pimpinan MPR RI bisa berjalan dengan musyawarah mufakat,” ujar Bambang. “Kami juga menyampaikan terima kasih pada bapak Prabowo Subianto,” tutur dia.

Selain itu, dalam pidatonya, Bambang juga mengucapkan terima masih kepada Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa. Seusai Rapat Paripurna MPR, Ahmad Muzani menceritakan proses keputusan Partai Gerindra yang akhirnya memutuskan mendukung Bambang Soesatyo menjadi ketua MPR. Muzani mengatakan, awalnya Prabowo menghubungi Megawati, meminta agar posisi Ketua MPR diberikan kepada Partai Gerindra. “Jadi Pak Prabowo tadi berkomunikasi dengan Ibu Megawati detik-detik terakhir sebelum dilakukannya keputusan tentang ini. Komunikasi dimaksud tentang perihal ketua MPR dimana Prabowo meminta kepada ibu Mega agar diberikan kepada Gerindra,” kata Muzani.

Muzani mengatakan, Megawati tidak menolak permintaan Prabowo tersebut, namun proses pemilihan pimpinan MPR sudah berlangsung dan delapan fraksi, selain Gerindra, sudah menentukan pilihan. Oleh karenanya, kata dia, Megawati meminta pengertian Prabowo dan menerima dengan baik hasil pemilihan pimpinan MPR. “Karena itu, Ibu Mega memohon pengertian Pak Prabowo agar bisa menerima proses ini dengan baik dan menjaga MPR dengan musyawarah untuk mufakat. Meskipun ibu Mega sepenuhnya menyerahkan keputusan ini kepada Prabowo kemudian sebagai partai yang mandiri,” ujarnya. Muzani mengatakan, dirinya juga menyampaikan kepada Prabowo tentang peta fraksi-fraksi penetapan calon ketua MPR dan melaporkan hasil pembicaraanya dengan PAN, PKS dan Demokrat dalam lobi-lobi fraksi.

Berdasarkan hal itu, kata Muzani, Prabowo memutuskan agar dirinya tak meneruskan pencalonan sebagai Ketua MPR. “Akhirnya beliau ambil keputusan demi kepentingan lebih besar, ya sudah kamu tidak usah meneruskan pencalonan sebagai ketua MPR,” kata dia.

Facebook Comments
(Visited 24 times, 1 visits today)