JENEPONTO, KOTA TANPA TIONGHOA ATAU CHINA

Patung replika pejuang asal Jeneponto, Makkasau yang juga dikenal dengan julukan Gerilya Anti Pelor Turatea (Gaptur).
Penulis : Nurdin Taba I Kamis 5 Maret 2020 I Jam, 23,25 WIB

JAKARTA, FIGUR.co.id – Jeneponto adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, mempuanyai karakter tersendiri serta keunikan yang sangat mengesangkan, keunikan membuat saya tertarik menulis diantaranya satu-satunya Kota di Indonesia Etnik Tionghoa atau China tidak bermukim di Kabupaten Jeneponto Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Kabupaten Jeneponto dengan Ibu Kota Bontosunggu, memiliki luas wilayah 749,79 km2. dengan jumlah penduduk sebanyak 359.787 Jiwa (tahun 2017), terdiri dari 11 kecamatan, 31 kelurahan dan 82 desa.

Jeneponto adalah salah satu kabupeten yang dapat dikategorikan memegang teguh prinsip budaya para leluhur, dimana etnik tionghoa atau china tidak hidup berdampingan dengan masyarakat Jeneponto pada umumnya, selain itu yang sangat mengesangkan, Masyarakat Jeneponto dalam melestarikan budaya adat dalam sebutan atau panggilan KARAENG sapaan Gelar Penghormatan Bangsawan/Darah Biru Masyarakat Jeneponto) tetap terjaga hingga kini.

Orang-orang beretnik Tionghoa atau China kebanyakan berbaur hidup berdampingan dengan Masyarakat Pribumi yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Lain halnya kehidupan masyarakat di kabupaten Jeneponto kita tidak dapat menemukan etnik tionghoa atau china hidup berdampingan dengan Masyarakat Pribumi Jeneponto dan hampir tidak ditemukan perayaan setiap hari besar tionghoa seperti imlek dan lain-lain khususnya hari perayaan tionghoa atau china.

Entah bagaimana sejarahnya sampai orang-orang etnik Tionghoa atau Cina tidak bermukim di Jeneponto, atau masyarakat Jeneponto tidak menghendaki orang-orang beretnik Tionghoa atau China menetap di Jeneponto. Entahlah.

 

Facebook Comments
(Visited 356 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *